Rasa tidak enak badan pada pagi hari itu tidak menghalangi keinginan saya untuk dapat menyaksikan perhelatan rakyat di sebuah desa di lereng Merapi, Dusun sengi namanya.
Lokasi yang saya pelajari melalui peta ternyata tidak terlalu sulit dijangkau meskipun sempat kuatir salah arah karena beberapa penduduk yang sempat saya tanyai di desa tetangga sebelumnya tidak mengetahui adanya perhelatan tersebut.
Menurut jadwal, acara baru akan dimulai pada jam 2 siang ,pada hari Sabtu 9 Juli 2011 itu, tapi saya tiba jauh lebih awal dan itu menguntungkan karena saya masih bisa memperoleh tempat parkir di dalam lokasi perayaan.
Kesan pertama saat berada di lokasi tersebut, sebuah perayaan rakyat sederhana sedang berlangsung. Dekorasi jerami mendominasi suasana disitu,2 wayang dengan bahan yang sama dan saling berhadapan menjadi saksi pesta rakyat tersebut.
Senyum dan celoteh gembira penduduk terlihat tersebar di berbagai sudut, mereka sedang bersiap siap menantikan dimulainya perayaan yang terutama akan diikuti oleh anak anak setempat.
Awalnya saya mendatangi sebuah lapangan tanah penuh debu dimana beberapa kelompok dengan kostum tradisional sudah mulai berkumpul. Semakin lama semakin banyak kelompok yang bergabung dan memenuhi lapangan tanah tersebut.
Cuaca panas terik tidak menghalangi kegembiraan mereka untuk mengikuti perayaan tersebut. Pendudukpun mulai memadati lapangan dan jalan aspal yang tidak terlalu lebar, semuanya terlihat gembira.
Tlatah Bocah tahun ini bertema Wayah Gumregah yang berarti ‘saat cucu cucu Merapi bangkit’. Tema ini terangkat dari refleksi penduduk pasca erupsi gunung Merapi tahu lalu.Perayaan ini berlangsung 2 hari, diramaikan oleh suara gending dan berbagai tarian anak anak maupun remaja dan dewasa.
Tiba tiba seorang panitia memberi aba aba pada beberapa kelompok anak anak yang sudah berkumpul untuk memulai perjalanan mengelilingi dusun Sengi , yang ternyata akan ‘menjemput’ kelompok lain di jalan jalan yang akan mereka lalui.
Mendekati sebuah gang terlihat sekumpulan remaja dengan kostum mirip bangsa Indian, lengkap dengan krincingan terikat di kaki kaki mereka.Suasana menjadi semakin meriah dengan terdengarnya gemrincing dari kaki kaki mereka.
Sesampainya kembali di area dimana mereka berangkat tadi, beberapa kelompok baru terlihat berdatangan dari berbagai arah untuk bergabung.
Terlihat beraneka ragam kostum yang menggunakan bahan bahan yang akrab dengan keseharian mereka seperti bulu ayam, stagen, jarig, caping, bakul dll , dilengkapi dengan riasan penuh warna warni yang menyolok. Semua terkesan meriah dan gegap gempita.
Setelah upacara pembukaan berlangsung, tiba saatnya bagi setiap kelompok untuk mempersembahkan penampilan mereka yang penuh dengan berbagai variasi gerakan unik dan menarik, menyihir para penonton yang mengelilingi arena pertunjukan.
Mbak, tulisan kami kutip ke www.TlatahBocah.org ya, dg judul yg maaf sedikit berbeda (semoga memancing keinginantahuan). Nama mbak tetap kami cantumkan dan kami link kan ke web ini...
ReplyDeletegpp yaa