Sunday, July 31, 2011

Seni Suara Alam Burung Perkutut - Piala Raja Hamengku Buwono X



Sore itu sepulang dari bepergian, seperti biasa saya melewati alun alun selatan menuju rumah. Tidak menyangka terdapat keramaian disana, sebagian jalan di sekitar alun alun tertutup untuk umum. Ternyata sedang berlangsung lomba burung perkutut disana.
Jejeran tiang penggantung terlihat sangat menarik dari kejauhan, mengundang saya untuk dapat mengabadikannya melalui kamera. 



Mengingat cuaca yang panas terik, saya bermaksud untuk datang pada sore hari manakala matahari sudah mulai turun. Saya siapkan kamera lama untuk saya bawa.
Tiba jam 4 sore disana, terdengah riuh rendah para peserta yang berusaha mempengaruhi dan menarik perhatian para juri untuk memberi nilai tinggi pada burung burung perkutut mereka.
Sangkar sangkar burung terlihat cantik dan menarik dengan warna warna yang menyolok, memperindah pemandangan.




Beberapa peserta dari seluruh Indonesia datang mengikuti lomba ini untuk memperebutkan Piala Raja Hamengku Buwono X dan Dinas Pariwisata DIY.




Kira kira pukul 5.15 terdengar suara aba aba yang menandakan perlombaan hari itu sudah selesai dan akan dilanjutkan keesokan harinya pada acara final.
Para peserta memasuki arena untuk menurunkan burung burung perkutut mereka masing masing untuk kemudian menutupnya dengan sarung yang dibuat khusus.
Uniknya ada satu sangkar burung tertinggal, entah milik siapa.








Solo Batik Carnival




Hari itu tidak sabar rasanya untuk bisa cepat cepat ke Solo dan menyaksikan pagelaran yang untuk pertama kalinya diadakan pada malam hari ini. Momen spesial ini  jatuh pada hari Sabtu 25 Juni 2011. Saya berencana untuk pergi bertiga dengan 2 sahabat saya, Gamal Hendro dan Budi Soemitro yang sama sama hobby memotret. 



Beruntung  sekali Budi  bisa mengusahakan untuk dapat memperoleh kartu identitas panitia guna mempermudah akses kami meliput dan melakukan pemotretan sejak peserta melakukan persiapan.
Sesuai rencana kami berangkat terpisah, Budi akan menyusul kemudian dengan membawa seragam panitia dan kartu identitas kami bertiga. Meskipun acara baru akan dimulai malam hari, tapi kami sudah tidak sabar untuk berangkat sejak jam 1  siang dari Yogya. 




Sesampainya kami di Solo, kami melakukan survey lokasi karnaval yang akan digelar di sepanjang jalan Slamet Riyadi dan rencananya akan ditutup untuk umum sejak jam 5  sore.




Kami sudah dapat membayangkan padatnya penonton di sepanjang jalan itu saat arak arakan berlangsung malam hari.




Setelah kami menemukan tempat untuk parkir, kami menuju gedung PLN, dimana para peserta melakukan persiapan dan dirias. 



Karena Budi yang akan membawa kartu panitia belum sampai, maka kami hanya bisa menunggu di luar gedung sambil memperhatikan para peserta yang baru tiba. 




Untuk peserta anak anak, umumnya mereka diantar oleh orang tua dengan membawa perlengkapan kostum yang membuat kami semakin tidak sabar untuk bisa segera masuk menyaksikan persiapan mereka.
Akhirnya Budi sampai juga dengan tergopoh gopoh karena merasa terlambat. Setelah menerima seperangkat tanda panitia,  kami  langsung masuk area panitia untuk berkeliling dan mencari sasaran untuk difoto. 







Kagum akan kostum kostum  yang mereka kenakan, terlebih setelah mendengar proses pembuatan nya.



Karena dikerjakan oleh masing masing peserta, maka terlihat hasilnya yang sangat rapih dan penuh detail .


Pembuatan dilakukan dalam beberapa bulan, karena harus melalui proses panjang dimana panitia berhak menilai dan menyetujui hasil akhirnya.Bukan main, tidak heran semua terlihat spektakuler dan cantik.



Solo Batik Carnival 2011 kali ini mengambil tema keajaiban legenda yang menampilkan keanekaragaman gaya, corak dan warna batik Indonesia. Empat legenda tersebut adalah Ande ande Lumut, Rara Jongrang, Ratu Pantai Selatan dan Ratu Kencana Wungu.




Selepas magrib, para peserta mulai membentuk barisan untuk segera turun ke jalan. Lampu lampu pada beberapa tubuh peserta membuat mereka semakin gemerlap.
Beruntung kami yang memiliki kartu dan seragam panitia, memperoleh kesempatan untuk bisa memperoleh lokasi strategis untuk dapat melakukan pemotretan, dimana arak arakan akan berhenti dan menampilkan suatu koreografi, dilengkapi dengan pencahayaan yang bukan main cantiknya. 




Akhir dari rangkaian pawai yang diikuti oleh empat Putri Indonesia yang berada dalam kereta berhias, menambah semarak Solo Batik Carnival tahun ini.



Friday, July 29, 2011

Tlatah Bocah



Rasa tidak enak badan pada pagi hari itu tidak menghalangi keinginan saya untuk dapat menyaksikan perhelatan rakyat di sebuah desa di lereng Merapi, Dusun sengi namanya.

Lokasi yang saya pelajari melalui peta ternyata tidak terlalu sulit dijangkau meskipun sempat kuatir salah arah karena beberapa penduduk yang sempat saya tanyai di desa tetangga sebelumnya tidak mengetahui adanya perhelatan tersebut.
Menurut jadwal, acara baru akan dimulai pada jam 2 siang ,pada hari  Sabtu 9 Juli 2011 itu, tapi saya tiba jauh lebih awal dan itu menguntungkan karena saya masih bisa memperoleh tempat parkir di dalam lokasi perayaan.


Kesan pertama saat berada di lokasi tersebut, sebuah perayaan rakyat sederhana sedang berlangsung. Dekorasi jerami mendominasi suasana disitu,2 wayang dengan bahan yang sama dan saling berhadapan menjadi saksi pesta rakyat tersebut.


Senyum dan celoteh gembira penduduk  terlihat tersebar di berbagai sudut, mereka sedang bersiap siap menantikan dimulainya perayaan yang terutama  akan diikuti oleh anak anak setempat.


Awalnya saya mendatangi sebuah lapangan tanah penuh debu dimana beberapa kelompok dengan kostum tradisional sudah mulai berkumpul. Semakin lama semakin banyak kelompok yang bergabung dan memenuhi lapangan tanah tersebut.


Cuaca panas terik tidak menghalangi kegembiraan mereka untuk mengikuti perayaan tersebut. Pendudukpun mulai memadati  lapangan dan jalan aspal yang tidak terlalu lebar, semuanya terlihat gembira.



Tlatah Bocah tahun ini bertema Wayah Gumregah yang berarti ‘saat cucu cucu Merapi bangkit’. Tema ini terangkat dari refleksi penduduk pasca  erupsi  gunung Merapi tahu  lalu.Perayaan ini berlangsung 2 hari, diramaikan oleh suara gending dan berbagai tarian anak anak maupun remaja dan dewasa.



Tiba tiba seorang panitia memberi aba aba pada beberapa kelompok anak anak yang sudah berkumpul untuk memulai perjalanan mengelilingi dusun Sengi , yang ternyata akan ‘menjemput’ kelompok lain di jalan jalan yang akan mereka lalui.



Mendekati sebuah gang terlihat sekumpulan remaja dengan kostum mirip bangsa Indian, lengkap dengan krincingan terikat di kaki kaki mereka.Suasana menjadi semakin meriah dengan terdengarnya gemrincing dari kaki kaki mereka.


Sesampainya kembali di area dimana mereka berangkat tadi, beberapa kelompok baru terlihat berdatangan dari berbagai arah untuk bergabung.


Terlihat beraneka ragam kostum yang  menggunakan bahan bahan yang akrab dengan keseharian mereka seperti bulu ayam, stagen, jarig, caping, bakul dll , dilengkapi dengan riasan penuh warna warni  yang menyolok. Semua terkesan meriah dan gegap gempita.



Setelah upacara pembukaan berlangsung, tiba saatnya bagi setiap kelompok untuk mempersembahkan penampilan mereka yang penuh dengan berbagai variasi gerakan unik dan menarik, menyihir para penonton yang mengelilingi arena pertunjukan.



Saya mengikuti acara hari itu sampai menjelang magrib tiba, menorehkan banyak kesan yang belum pernah saya alami sebelumnya, pesta rakyat yang bisa membuat kita lupa sejenak akan kesulitan hidup sehari hari.